Pergerakan Dibalik Synchronize Fest 2019
Synchronize Fest 2019, sebuah festival musik multi-genre yang dihelat pada 4, 5, dan 6 Oktober 2019, telah sukses menampilkan 130 band dan musisi (belum termasuk tamu special dan beberapa musisi yang berkolaborasi dengan pengisi acara) dari berbagai genre musik mulai dari pop, R&B, rock, hingga dangdut. Selain pertunjukan musik, pengunjung juga disuguhkan pengalaman lainnya seperti film, karaoke, hingga pasar seni. Produk yang dijual cukup beragam seperti kaos, aksesoris, juga piringan hitam dari musisi dalam dan luar negeri.
Selama tiga hari pengunjung disuguhi 4 buah panggung besar (Dynamic Stage, Lake Stage, Forest Stage, dan District Stage), ditambah 1 panggung lingkaran dengan tinggi hanya 30 cm dari tanah sehingga interaksi penonton dengan artis sangat terasa di panggung ini (XYZ Stage), serta satu buah ruangan tertutup kecil yang mengingatkan kita pada suatu bar yang kerap menampilkan live music (Gigs Stage). Para musisi bergiliran main setiap jamnya di setiap panggung. Pengunjung berkelana dari panggung ke panggung untuk menikmati musisi favoritnya. Emosi setiap panggung juga ikut berubah dari waktu ke waktu. Sebagai contoh, suasana syahdu di Dynamic Stage tercipta ketika Raisa naik panggung. Selang waktu berikutnya, Dynamic Stage bergetar karena raungan Burger Kill. Dipenghujung hari, Didi Kempot berhasil membuat Dynamic Stage ambyar sebgai penutup hari pertama.
Banyak nostalgia yang tercipta dalam festival ini. Mulai dari reuni band-band besar seperti "Clubeighties", "Killing Me Inside", bahkan "Deadsquad". Clubeighties tampil lengkap dengan drummer Desta dan bassist Vincent. Killing Me Inside juga tampil dengan formasi Onadio Leonardo (bass), Sansan (vokal), Raka Cyril Damar (gitar), Putra Pra Ramadhan (drum). Deadsquad tampil dengan formasi saat album "Horror Vision" rilis, sekaligus merayakan 10 tahun album tersebut.
Selain Deadsquad yang merayakan 10 tahun rilis album "Horror Vision", "The Upstairs" juga ikut merayakan ulang tahun mereka yang ke 18. The Upstairs tampil dengan membawakan album "Energy" secara penuh. Tembang "Apakah Aku Berada di Mars atau Mereka Mengundang Orang Mars", "Disko Darurat", sampai "Matraman" mereka bawakan di atas panggung sebagai perayaan ulang tahunnya.
Belum lagi band lawas seperti "The Brandals", "Superglad", "Rocket Rockers", bahkan sampai ke angkatan "Humania", "Tipe-X" dan "The Flowers" ikut berpesta di festival ini. Band-band tersebut sangat besar di era 1990an akhir sampai awal 2000an. Suara Buluk, vokalis Superglad, sukses membuat merinding penonton Forest Stage karena seakan bangkit dari kubur setelah menghilangnya beliau selama 2 tahun belakangan ini. "The Brandals" mengingatkan pada kejayaan "JKT: SKRG" dan "Aksara Records" ketika membawakan lagu "Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A" milik "C'mon Lennon". "The Flowers" kembali memanggil "Bu Dokter" dari Forest Stage untuk mengenang kejayaan mereka 20 tahun silam. "Rocket Rockers" tampil secara mengejutkan karena ikut menggandeng "Mawang" tampil di atas panggung.
Seluruh penampil memang terkurasi dengan sangat baik. Tidak pernah ada panggung yang kosong selama festival berlangsung. Panggung musisi yang sangat segmented seperti "Scaller", "Gugun Blues Shelter", "Tohpati Bertiga", hingga "Jason Ranti" terlihat penuh dengan penonton. Setiap aliran memiliki penikmatnya masing-masing dan penggila aliran tersebut mendapatkan panggungnya masing-masing.
Belum puas dengan suguhan musik di 6 panggung, beberapa kejutan juga disiapkan oleh panitia. Salah satunya adalah hadirnya sang legenda "Iwan Fals" ke atas panggung. Namanya tidak muncul pada daftar penampil. Panggung yang seharusnya disiapkan untuk "Oom Leo Berkaraoke" ternyata diisi oleh sang legenda. Kejutan baru diberitahu pada hari-H melalui media sosial resmi Synchronize Fest dengan menampilkan gambar kotak nasi (referensi untuk lagu "Bento"), pesawat tempur, dan tugu pancoran (referensi untuk lagu "Sore Tugu Pancoran"). Dynamic Stage membahana menyambut sang legenda.
Kejutan tidak berhenti sampai di situ. Ketika Oom Leo Berkaraoke beraksi, muncul tamu yang disebut Oom Leo sebagai "Pemuda Karang Taruna Kemayoran". Nyatanya yang muncul adalah boyband "SM*SH" disambut dengan riuh penonton Dynamic Stage. Sesuai dengan daftar penampil resmi, Oom Leo memang akan melakukan kolaborasi dengan beberapa artis seperti "Ian Kasela", "Babang Andhika", "Charlie ST12", dan "Wali". Nama SM*SH memang tidak tercantum dan menjadi kejutan kedua di hari ini. Oom Leo memang selalu menyajikan musik yang menjadi "guilty pleasure" kita semua. Banyak yang bilang musik-musik melayu dan boyband adalah sampah, tapi tidak sedikit juga dari mereka yang bicara itu hafal dengan lagu tersebut. Perasaan itulah yang digali oleh Oom Leo sehingga pada saat beliau tampil, penonton sudah lupa dengan rasa malu itu tapi bersama-sama bernyanyi bersama membentuk koor yang membahana.
Yang tak luput dari perhatian adalah adanya konser dari seorang legenda yang sudah lama wafat. Almarhum "Chrisye" pun mendapatkan panggungnya di festival ini. Dengan dibantu oleh "Erwin Gutawa", sang legenda bisa tampil di panggung lagi walaupun hanya berupa rekaman videonya saja. Dengan menggunakan video dokumentasi dari penampilan live Chrisye, Erwin Gutawa bersama dengan band-nya mengiringi video tersebut secara live. Sebuah konsep yang cukup brilian dan belakangan ini memang mulai populer di luar negeri sana. Walaupun hanya berupa tayangan video, tetapi emosi penonton ikut terpancing oleh gimmick yang dilakukan oleh Chrisye pada waktu video itu direkam. Penonton membuat koor pada saat Chrisye meminta penonton ikut bernyanyi atau bertepuk tangan. Bahkan seniman yang sudah lewat bisa punya panggung di Festival ini.
Selain panggung musik sebagai wahana utama, masih ada wahana tambahan lain yang turut menyemarakkan suasana. Pertama adalah Movie Area yang jadi salah satu menu utama yang disuguhkan panitia. Mulai dari film klasik seperti "Tiga Dara" dan "Gita Cinta dari SMA", film populer seperti "Aruna dan Lidahnya", hingga film "Kucumbu Tubuh Indahku" dan "27 Steps of May".
Belum lagi karaoke booth yang disediakan oleh salah satu sponsor utama acara ini. Pengunjung di ruangan itu tak lagi peduli dengan pitch control sang biduan dadakan. Kepuasan untuk meluapkan emosi menjadi salah satu yang utama. Ditambah lagi dengan nostalgia yang muncul dari tembang yang diputarkan dan penggalan memori bahagia dari teman-teman seperjuangan yang ikut menjadi backing vokal sang biduan dadakan. Belum lagi adanya substansi alkohol dengan kadar yang cukup. Booth ini menjadi wahana yang tidak pernah mati, walaupun bukan menjadi menu utama.
Sebagai penikmat musik dan kolektor musik, deretan record store bisa menjadi pengalih perhatian dari hingar-bingar panggung musik. Area record store ini bisa menjadi area yang cukup berbahaya karena dapat membuat pria harus meminta maaf kepada pasangannya karena telah khilaf menghabiskan budget untuk kencan. Mulai dari CD, pita kaset, piringan hitam sampai kaos dan aksesoris menjadi obyek yang dijajakan. Nama-nama yang muncul di sampul kaset bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga luar negeri. Harga yang ditawarkan pun tidak jauh berbeda dengan harga pasaran pada umumnya. Lapak yang biasa kita temui di Blok M, sampai lapak yang biasa berjualan secara daring bisa kita temui di sini. Demajors sebagai salah satu penyelenggara utama tentunya memiliki lapak yang paling besar. Sedikit ada nostalgia pada toko bernama "Disc Tarra" atau "Aquarius Mahakam" ketika berkunjung ke lapak Demajors. Yang menarik perhatian di lapak Demajors adalah beberapa rilisan yang baru muncul seperti album "Fingers" milik Danila, album "PQ-Race dan Perjalanan" milik Barasuara yang dirilis secara terbatas, juga rilisan piringan hitam album "Adamantine" milik Burgerkill. Bahkan band yang kerap kali meminta pertolongan "Bu Dokter", The Flowers, secara khusus memilih Synchronize Fest sebagai lokasi perilisan album barunya. Selain untuk berjualan, lapaknya dipergunakan juga sebagai lokasi meet & greet beberapa nama seperti Danilla, The Adams, Burgerkill, sampai nama gaek Superglad.
Selain mengusung tema sebagai festival musik, ada lagi pergerakan yang menarik dari festival ini yaitu kampanye Green Movement. Salah satu isi dari Green Movement ini adalah dengan menggalakkan penggunaan tumbler dan melarang penggunaan plastik sekali pakai di dalam area festival. Gerakan ini bukan hanya berlaku untuk penonton saja, tetapi seluruh pengisi acara juga ikut serta. Semua musisi di atas panggung minum dari tumbler warna oranye yang juga dijual juga sebagai merchandise. Bahkan grup musik .feast ikut membuat lawak satir yang menyebutkan betapa hebatnya Synchronize Fest yang berani menganjurkan penggunaan tumbler (botol minum) padahal tumbler (website) sendiri diblokir oleh pemerintah. Anggur merah cap Orang Tua, sebagai salah satu pengisi lapak minuman, pun mendadak naik kasta dari yang biasa tersimpan di dalam kantong kresek hitam, sekarang tersimpan manis di dalam tumbler yang dibawa pengunjung.
Untuk mendukung penggunaan tumbler ini, panitia menyediakan Water Station dimana pengunjung bisa mengisi tumblernya dengan air minum di sana. Penyediaan Water Station ini menggunakan konsep Susu Tante, Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan. Pengunjung dengan bebas boleh mengisi tumblernya dengan air minum yang disediakan dan pengunjung cukup membayar sukarela seikhlasnya pada kotak sumbangan yang sudah disediakan. Tentu saja Water Station ini menjadi primadona dan kotak sumbangan terlihat penuh dengan uang pecahan Rp.2.000 sampai Rp.10.000 dihari terakhir, tanda bahwa pengunjung turut peduli dalam mensukseskan gerakan ini.
Penjualan official merchendise pun turut serta dalam mensukseskan pergerakan Green Movement ini. Alih-alih menggunakan kantong plastik sekali pakai, panitia menggunakan degradable plastic bag. kantong plastik ini memang tidak cukup kuat dan awet seperti kantong plastik pada umumnya. Tetapi hanya dengan tumpahan air minum dari tumbler saja sudah berhasil membuat kantong plastik ini melunak dan sobek di sana-sini. Panitia memang tidak main-main dalam mengkampanyekan Green Movement ini.
Selain menggalakkan penggunaan tumbler, panitia juga melenggarakan acara Bike to Synchronize Fest. Acara ini mengajak pengunjung untuk datang ke Synchronize Fest dengan menggunakan sepeda. Titik kumpul yang dipilih adalah Lobby Selatan Blok M Plaza yang kemudian pengunjung akan bersama-sama konvoi menuju Gambir Expo dengan menggunakan sepeda. Tampak dedengkot band The Upstairs, Jimi Multhazam, bersama anaknya berkeliling venue dengan menggunakan sepeda. Kurang jelas apakah beliau ikut serta dalam kegiatan ini, tapi yang jelas beliau ikut ambil bagian dalam mengkampanyekan kegiatan ini.
Walaupun demikian, masih ada saja tenant yang menyuguhkan hidangan menggunakan gelas plastik. Sempat terlihat sebuah perusahaan air minum membuka stand yang menjual dagangannya yang menggunakan botol plastik sekali pakai. Bahkan penyedia minuman alkohol masih bisa lebih sopan dengan menyuguhkan minumannya di gelas kertas. Untuk kedepannya, panitia perlu lebih galak lagi kepada para pelapak supaya Green Movement betul-betul terwujud sampai ke urat nadi dari festival ini.
Selama tiga hari pengunjung disuguhi 4 buah panggung besar (Dynamic Stage, Lake Stage, Forest Stage, dan District Stage), ditambah 1 panggung lingkaran dengan tinggi hanya 30 cm dari tanah sehingga interaksi penonton dengan artis sangat terasa di panggung ini (XYZ Stage), serta satu buah ruangan tertutup kecil yang mengingatkan kita pada suatu bar yang kerap menampilkan live music (Gigs Stage). Para musisi bergiliran main setiap jamnya di setiap panggung. Pengunjung berkelana dari panggung ke panggung untuk menikmati musisi favoritnya. Emosi setiap panggung juga ikut berubah dari waktu ke waktu. Sebagai contoh, suasana syahdu di Dynamic Stage tercipta ketika Raisa naik panggung. Selang waktu berikutnya, Dynamic Stage bergetar karena raungan Burger Kill. Dipenghujung hari, Didi Kempot berhasil membuat Dynamic Stage ambyar sebgai penutup hari pertama.
Banyak nostalgia yang tercipta dalam festival ini. Mulai dari reuni band-band besar seperti "Clubeighties", "Killing Me Inside", bahkan "Deadsquad". Clubeighties tampil lengkap dengan drummer Desta dan bassist Vincent. Killing Me Inside juga tampil dengan formasi Onadio Leonardo (bass), Sansan (vokal), Raka Cyril Damar (gitar), Putra Pra Ramadhan (drum). Deadsquad tampil dengan formasi saat album "Horror Vision" rilis, sekaligus merayakan 10 tahun album tersebut.
Selain Deadsquad yang merayakan 10 tahun rilis album "Horror Vision", "The Upstairs" juga ikut merayakan ulang tahun mereka yang ke 18. The Upstairs tampil dengan membawakan album "Energy" secara penuh. Tembang "Apakah Aku Berada di Mars atau Mereka Mengundang Orang Mars", "Disko Darurat", sampai "Matraman" mereka bawakan di atas panggung sebagai perayaan ulang tahunnya.
Belum lagi band lawas seperti "The Brandals", "Superglad", "Rocket Rockers", bahkan sampai ke angkatan "Humania", "Tipe-X" dan "The Flowers" ikut berpesta di festival ini. Band-band tersebut sangat besar di era 1990an akhir sampai awal 2000an. Suara Buluk, vokalis Superglad, sukses membuat merinding penonton Forest Stage karena seakan bangkit dari kubur setelah menghilangnya beliau selama 2 tahun belakangan ini. "The Brandals" mengingatkan pada kejayaan "JKT: SKRG" dan "Aksara Records" ketika membawakan lagu "Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A" milik "C'mon Lennon". "The Flowers" kembali memanggil "Bu Dokter" dari Forest Stage untuk mengenang kejayaan mereka 20 tahun silam. "Rocket Rockers" tampil secara mengejutkan karena ikut menggandeng "Mawang" tampil di atas panggung.
Seluruh penampil memang terkurasi dengan sangat baik. Tidak pernah ada panggung yang kosong selama festival berlangsung. Panggung musisi yang sangat segmented seperti "Scaller", "Gugun Blues Shelter", "Tohpati Bertiga", hingga "Jason Ranti" terlihat penuh dengan penonton. Setiap aliran memiliki penikmatnya masing-masing dan penggila aliran tersebut mendapatkan panggungnya masing-masing.
Belum puas dengan suguhan musik di 6 panggung, beberapa kejutan juga disiapkan oleh panitia. Salah satunya adalah hadirnya sang legenda "Iwan Fals" ke atas panggung. Namanya tidak muncul pada daftar penampil. Panggung yang seharusnya disiapkan untuk "Oom Leo Berkaraoke" ternyata diisi oleh sang legenda. Kejutan baru diberitahu pada hari-H melalui media sosial resmi Synchronize Fest dengan menampilkan gambar kotak nasi (referensi untuk lagu "Bento"), pesawat tempur, dan tugu pancoran (referensi untuk lagu "Sore Tugu Pancoran"). Dynamic Stage membahana menyambut sang legenda.
Kejutan tidak berhenti sampai di situ. Ketika Oom Leo Berkaraoke beraksi, muncul tamu yang disebut Oom Leo sebagai "Pemuda Karang Taruna Kemayoran". Nyatanya yang muncul adalah boyband "SM*SH" disambut dengan riuh penonton Dynamic Stage. Sesuai dengan daftar penampil resmi, Oom Leo memang akan melakukan kolaborasi dengan beberapa artis seperti "Ian Kasela", "Babang Andhika", "Charlie ST12", dan "Wali". Nama SM*SH memang tidak tercantum dan menjadi kejutan kedua di hari ini. Oom Leo memang selalu menyajikan musik yang menjadi "guilty pleasure" kita semua. Banyak yang bilang musik-musik melayu dan boyband adalah sampah, tapi tidak sedikit juga dari mereka yang bicara itu hafal dengan lagu tersebut. Perasaan itulah yang digali oleh Oom Leo sehingga pada saat beliau tampil, penonton sudah lupa dengan rasa malu itu tapi bersama-sama bernyanyi bersama membentuk koor yang membahana.
Yang tak luput dari perhatian adalah adanya konser dari seorang legenda yang sudah lama wafat. Almarhum "Chrisye" pun mendapatkan panggungnya di festival ini. Dengan dibantu oleh "Erwin Gutawa", sang legenda bisa tampil di panggung lagi walaupun hanya berupa rekaman videonya saja. Dengan menggunakan video dokumentasi dari penampilan live Chrisye, Erwin Gutawa bersama dengan band-nya mengiringi video tersebut secara live. Sebuah konsep yang cukup brilian dan belakangan ini memang mulai populer di luar negeri sana. Walaupun hanya berupa tayangan video, tetapi emosi penonton ikut terpancing oleh gimmick yang dilakukan oleh Chrisye pada waktu video itu direkam. Penonton membuat koor pada saat Chrisye meminta penonton ikut bernyanyi atau bertepuk tangan. Bahkan seniman yang sudah lewat bisa punya panggung di Festival ini.
Selain panggung musik sebagai wahana utama, masih ada wahana tambahan lain yang turut menyemarakkan suasana. Pertama adalah Movie Area yang jadi salah satu menu utama yang disuguhkan panitia. Mulai dari film klasik seperti "Tiga Dara" dan "Gita Cinta dari SMA", film populer seperti "Aruna dan Lidahnya", hingga film "Kucumbu Tubuh Indahku" dan "27 Steps of May".
Belum lagi karaoke booth yang disediakan oleh salah satu sponsor utama acara ini. Pengunjung di ruangan itu tak lagi peduli dengan pitch control sang biduan dadakan. Kepuasan untuk meluapkan emosi menjadi salah satu yang utama. Ditambah lagi dengan nostalgia yang muncul dari tembang yang diputarkan dan penggalan memori bahagia dari teman-teman seperjuangan yang ikut menjadi backing vokal sang biduan dadakan. Belum lagi adanya substansi alkohol dengan kadar yang cukup. Booth ini menjadi wahana yang tidak pernah mati, walaupun bukan menjadi menu utama.
Sebagai penikmat musik dan kolektor musik, deretan record store bisa menjadi pengalih perhatian dari hingar-bingar panggung musik. Area record store ini bisa menjadi area yang cukup berbahaya karena dapat membuat pria harus meminta maaf kepada pasangannya karena telah khilaf menghabiskan budget untuk kencan. Mulai dari CD, pita kaset, piringan hitam sampai kaos dan aksesoris menjadi obyek yang dijajakan. Nama-nama yang muncul di sampul kaset bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga luar negeri. Harga yang ditawarkan pun tidak jauh berbeda dengan harga pasaran pada umumnya. Lapak yang biasa kita temui di Blok M, sampai lapak yang biasa berjualan secara daring bisa kita temui di sini. Demajors sebagai salah satu penyelenggara utama tentunya memiliki lapak yang paling besar. Sedikit ada nostalgia pada toko bernama "Disc Tarra" atau "Aquarius Mahakam" ketika berkunjung ke lapak Demajors. Yang menarik perhatian di lapak Demajors adalah beberapa rilisan yang baru muncul seperti album "Fingers" milik Danila, album "PQ-Race dan Perjalanan" milik Barasuara yang dirilis secara terbatas, juga rilisan piringan hitam album "Adamantine" milik Burgerkill. Bahkan band yang kerap kali meminta pertolongan "Bu Dokter", The Flowers, secara khusus memilih Synchronize Fest sebagai lokasi perilisan album barunya. Selain untuk berjualan, lapaknya dipergunakan juga sebagai lokasi meet & greet beberapa nama seperti Danilla, The Adams, Burgerkill, sampai nama gaek Superglad.
Penjualan official merchendise pun turut serta dalam mensukseskan pergerakan Green Movement ini. Alih-alih menggunakan kantong plastik sekali pakai, panitia menggunakan degradable plastic bag. kantong plastik ini memang tidak cukup kuat dan awet seperti kantong plastik pada umumnya. Tetapi hanya dengan tumpahan air minum dari tumbler saja sudah berhasil membuat kantong plastik ini melunak dan sobek di sana-sini. Panitia memang tidak main-main dalam mengkampanyekan Green Movement ini.
Selain menggalakkan penggunaan tumbler, panitia juga melenggarakan acara Bike to Synchronize Fest. Acara ini mengajak pengunjung untuk datang ke Synchronize Fest dengan menggunakan sepeda. Titik kumpul yang dipilih adalah Lobby Selatan Blok M Plaza yang kemudian pengunjung akan bersama-sama konvoi menuju Gambir Expo dengan menggunakan sepeda. Tampak dedengkot band The Upstairs, Jimi Multhazam, bersama anaknya berkeliling venue dengan menggunakan sepeda. Kurang jelas apakah beliau ikut serta dalam kegiatan ini, tapi yang jelas beliau ikut ambil bagian dalam mengkampanyekan kegiatan ini.
Walaupun demikian, masih ada saja tenant yang menyuguhkan hidangan menggunakan gelas plastik. Sempat terlihat sebuah perusahaan air minum membuka stand yang menjual dagangannya yang menggunakan botol plastik sekali pakai. Bahkan penyedia minuman alkohol masih bisa lebih sopan dengan menyuguhkan minumannya di gelas kertas. Untuk kedepannya, panitia perlu lebih galak lagi kepada para pelapak supaya Green Movement betul-betul terwujud sampai ke urat nadi dari festival ini.
Komentar
Posting Komentar